Jumat, 18 Maret 2016

Special Heart

File 4 : Mak comblang Carissa

Pertengahan semester di kelas enam. Sejauh ini aku sangat bahagia karena setelah 2 tahun duduk dibangku paling depan, kali ini aku duduk dibangku paling belakang. Karena anak pintar letaknya dibelakang dan yang kurang pintar didepan. Setelah 2 tahun bertemu Bu Regina, akhirnya kami terbebas dan diganti dengan Bu Akila. Dan yang paling penting adalah setelah hampir 2 tahun sebangku dengan Alan, akhirnya kami terpisah juga. Alan termasuk berkebutuhan lebih jadi dia duduk di tengah. Kali ini aku sebangku dengan Calvin, anaknya baik, tidak sombong, cenderung pendiam tetapi ramah, lemah lembut pula. Apa dia punya bibit bencong ya? Ah, harusnya aku bersyukur dapat teman sebangku sempurna seperti Calvin.
Aku sudah makin dewasa dalam menyikapi rasa malu. Aku tidak lagi antagonis, dengan Calvin aku pun berteman sangat baik.
Suatu hari hormon kedewasaan Carissa tak sanggup dibendung. Dia mulai membicarakan laki-laki yang menurutnya tampan dan menarik. Tentu saja, saat itu dikelas kami kedatangan murid baru yang cukup menarik, namanya Rico. Anaknya sangat cuek. Jarang bicara dengan perempuan. Ajaib adalah ketika dia mau bicara dengan perempuan walau hanya sedikit. Carissa benar-benar kepincut dan putus urat malunya, ia kerap menghampiri meja Rico saat jam istirahat dan basa-basi sampai benar-benar basi asalkan dapat lebih dekat dengan Rico. Ejekan teman sekelas tak dihiraukannya. Aku sempat heran dengan mental Carissa yang menjadi begitu berani dan masa bodoh asalkan keinginannya tercapai.
"Cieee, Carissa suka sama Rico!" ejek Luis "Carissa pacarnya Rico, Carissa pacarnya Rico" dia pun memberi nada pada kalimatnya, aku teringat akan Daniel yang bertindak sama sehingga aku ingin menghajar Luis. Sementara itu Rico tidak menolak maupun menerima, dia cuek seperti biasa. Hal itu membuat Carissa berpikir bahwa Rico setuju dibilang berpacaran dengannya. Ia bahkan sangat gembira walau Rico tak pernah menanggapi perasaannya.
Kemudian untuk menemani 'kesuksesannya' mendekati Rico. Carissa menjodoh-jodohkan antar teman sekelas. Tentu saja hanya mereka yang populer. Seperti Icha dengan Alan, Tari dengan Rudy. Kemudian Mae tidak setuju, ia ingin dijodohkan dengan Alan sehingga ia sering bersikap aneh dengan mendekati Alan. Bahkan sampai membelikan Alan jajan dan mainan yang sedang hits saat itu. Tentu Alan menolak dengan keras dan menjauhi Mae.
"Kamu apaan sih, aku nggak mau ini, dan jangan dekat-dekat aku lagi!"
"Nggak mau, aku nggak mau kamu sama Icha, aku mau sama kamu!" sambil merangkul lengan Alan. Karena malu, Alan mendorong Mae hingga jatuh. Mae menangis namun tidak patah arang ia tetap gigih ingin diakui sebagai pacar Alan. Aku hanya tertawa konyol menyaksikan mereka.
"Ya sudah, Alan punya Mae kok, aku nggak usah" Icha berusaha menenangkan Mae. Padahal Icha hanya korban pencomblangan Carissa. Icha adalah teman paling dewasa sehingga banyak dari kami yang senang berteman dengannya.
"Nggak bisa, pokoknya Icha sama Alan!" tukas Carissa. Ini lagi satu sosok yang tidak dewasa. Akhirnya mereka pun bermusuhan.
Hei kalian yang memperebutkan Alan, bagaimana dengan aku? Aku hampir dua tahun duduk dengan Alan lho. Begitu kira-kira protes batinku yang tidak pernah terpublikasi.
"Oh, iya Lucia sama Calvin pacarannya, mereka akrab kan sebangku" tutur Carissa spontan.
Yah kami berdua adalah nominasi asal-asalan paling akhir asal ada pasangan. Namun kami tidak menanggapinya, kami sama-sama saling mengerti dan pencomblangan itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap hubungan yang sudah ada. Lain halnya dengan Tari, merasa senang dicomblangkan dengan Rudy ia pun menanggapinya dengan semangat. Ketika Rudy nakal di kelas maka Tari akan turun tangan. Seperti istri mengurus suami. Begitu juga dengan Icha, namun sepertinya Icha hanya mengikuti alur permainan yang sedang musim saja. Main jodoh-jodohan. Sementara para laki-laki cuek dengan ke ge-er an para siswi.
"Ayo donk, Lucia si Calvin diatur, tuh dia nggak duduk dibangkunya" tutur Tari.
"Oh, Calvin tu gampang diatur kok, sekarang dia lagi nyari duit buat kita" timpalku bercanda.
"Ciyeee Calvin sama Lucia!" spontan Alan menggoda Calvin yang sedang bermain dengannya. Sementara itu Calvin hanya cuek seperti biasa.
Aku sedikit merinding mendapatkan perhatian tidak langsung dari Alan karena selama dikelas enam aku dan Alan sudah jarang berkomunikasi.
"Lucia, pinjam tugas!" tiba-tiba Rico dengan polosnya datang menghampiriku.
"Rico kamu selingkuh ya, kamu nggak boleh ngomong sama Lucia!" bentak Carissa.
"Kalau begitu kamu kerjain tugasku, aku mau main sama Luis"
"Ya udah sini!"
Sementara aku sedikit berbangga hati karena menjadi salah satu perempuan yang diajak bicara oleh Rico lebih dahulu, termasuk keajaiban kan. Tapi biasa saja sih.
Lelah dengan Alan, Mae mencari pasangan baru. Rupanya ia iri dengan 'kegilaan' jodoh-jodohan yang dilakukan para siswi. Dan dia pun menjatuhkan pilihannya pada Calvin.
"Calvin pacarku, Lucia sama Luis saja!" begitu tiba-tiba dia menghampiri bangku kami dan menggamit lengan Calvin.
"Eh aku nggak mau, kan sudah ada Lucia" Calvin menolak dengan lebih halus daripada Alan.
"Pokoknya nggak boleh, awas kamu Lucia kalau sampai ambil Calvin. Calvin ayo aku traktir ke kantin!"
"Idih sapa juga, kamu aja deh, aku jomblo" tukasku.
"Nggak mau, duitku banyak kok!" tolak Calvin.
Mae kembali tidak terima dengan penolakan seorang laki-laki hingga ia berteriak gaduh di kelas dan mengundang perhatian guru yang kebetulan lewat. Akhirnya Bu Akila marah dengan ajang perjodohan Carissa dan membubarkannya saat itu juga. Sementara itu Mae masih berusaha mendapatkan perhatian Calvin. Oh, Calvin yang malang.
Kesimpulanku adalah, sikap kasar Alan pada Mae mengingatkan sikap kasarnya padaku dulu. Sebenarnya Alan menyukai kami atau justru sangat membenci kami?
Sudahlah, kelas enam berakhir dengan damai karena kami semua dinyatakan lulus ujian. Dan akhirnya kami berpencar tidak lagi satu sekolah. Alan dan beberapa teman lainnya melanjutkan sekolahnya di lembaga swasta. Sedangkan aku di sekolah negeri. Kami pun memulai kehidupan kami yang baru di sekolah lanjutan. Perasaanku yang masih belum terdefinisikan akhirnya terlupakan. Tapi terkadang aku bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana perasaan Alan padaku?

Menurut kalian bagaimana?
Baiklah, season satu sudah berakhir, sampai jumpa di season berikutnya ya.
P. S: kalau ada yang bisa aplikasikan ke bentuk manga aku minta tolong banget ya kita kerja sama, pasti seru.
Terimakasih banyak sudah membaca.

Special Heart

File 3 : Adaptasi ala Lucia.

Kenaikkan kelas lima. Itu artinya akan ada harapan baru bagiku untuk berganti teman sebangku. Namun tetap dengan guru yang sama, Bu Regina. Entah mengapa beliau betah dengan wajah kami semua. Kali ini tidak ada mutasi murid dari kelas sebelah ke sebelah. Jadi di kelas ini kami seperti tidak naik kelas berjamaah. Dan pasti akan sangat tidak adil kalau aku sebangku dengan Alan lagi. Kesialan tidak seburuk itu, kan!
Pengaturan posisi duduk seperti biasa. Kali ini aku duduk dengan Carlos. Yah, mungkin akan lebih damai. Pikirku.
"Duh, Carlos kamu sudah kelas lima kok ingusnya belum ilang juga?" aku berusaha tidak mengejeknya.
"Ini kan alergi, jadi nggak bisa sembuh. Hehehe"
"Awas kamu ya, jangan dekat-dekat!" aduh, kenapa sifat antagonisku begitu mudah muncul ya? Hampir menyesal.
Terkadang aku keterlaluan dengan Carlos. Pernah suatu hari saat suasana hatiku sedang buruk. Seperti anak perempuan PMS, tapi saat itu aku belum pubertas. Entah ini sifat apa, yang jelas sifat burukku. Sifat yang timbul untuk menutupi sifat pemaluku yang sebenarnya. Bahkan Carlos sampai meminjam buku pada Antonius di meja sebelah karena aku enggan membagi buku. Aku tidak banyak bicara namun buku cetak matematika itu ku letakkan dibawah buku tulisku sehingga hanya aku yang bisa lihat. Carlos susah payah melirik soal dari bukuku dan ku biarkan saja. Aku menyesal, dan hidupku menjadi tidak sempurna karena Carlos tipe laki-laki yang mengalah. Bahkan dia tidak marah walau aku sudah bersikap buruk padanya. Berbeda dengan Alan yang selalu melawan apapun kondisinya. Hm, Alan… Sepertinya dia sudah damai duduk sama Icha. Apalagi Icha kan juara kelas. Pasti Alan senang bisa dapat contekan, bisa minta diajarkan. Waduh, kenapa aku jadi cemburu gini ya? Bukan, aku yang kepingin duduk sama Icha bukan sama Alan. Aku bergelut dengan batinku sendiri.
Oh, ya kalau kalian bertanya-tanya kenapa kami di dudukkan berpasangan itu karena anak laki-laki sering main sendiri ketika pelajaran berlangsung. Sedangakan anak perempuan lebih perhatian. Dengan membuat kami menjadi berpasangan diharapkan anak laki-laki pun dengan 'terpaksa' akan memperhatikan pelajaran dikelas. Kecuali Sheila da Andy, mereka pasangan serasi. Sheila adalah tipe perempuan dewasa yang bisa 'santai saja' bahkan ketika ujian berlangsung. Ia sering meladeni Andy bermain saat jam pelajaran, bahkan mereka bercerita perihal sarapan apa tadi pagi di rumah. Bu Regina harus menukar posisi duduk mereka karena tidak efektif.
Selama semester ganjil ini aku sudah berhasil move on dari Alan. Bahkan hubungan kami jadi lebih 'biasa saja' artinya kami memang tidak akrab namun juga tidak pernah bertengkar. Itu karena letak kami yang berjauhan. Namun, setiap melihat Alan, aku merasakan sesuatu yang aku sendiri malu untuk menyimpulkannya. Akhirnya yang muncul adalah sifat antagonisku. Aku tidak suka dengan Alan! Titik!.
Menjelang akhir semester aku pun makin menyadari bahwa aku tidak bisa terus menutupi sifat pemaluku dengan antagonis yang meledak-ledak. Aku belajar lebih cuek dengan 'apa kata orang' aku menjadi lebih acuh dan tidak terlalu serius menanggapi sesuatu. Aku jadi semakin baik dengan Carlos, kami kerap berbagi buku, aku memberikannya jawaban soal sehingga pernah suatu waktu nilai matematikanya lebih tinggi daripada nilaiku, akhir ya aku bertekad tidak akan memberikan semua jawaban padanya lagi, yah 50% sudah lebih dari cukup kan. Pokoknya aku berusaha menjadi teman sebangku yang kompak. Sayangnya si Carlos memang bodoh, ketika dia sudah ingin main, dia tida peduli dengan tugas-tugasnya. Kami tidak bisa kompak. Yah, paling tidak aku sudah mengurangi sikap 'why so serious' ku.
DAN hasilnya, nilai raportku semester ini terjun bebas. Ini adalah hasil 'santai saja'. Ternyata aku tidak cukup cerdas mengartikan kata itu. Ibu tidak marah dengan nilaiku tapi beliau hanya berkata 'huh gimana nih? Kemarin rangking dua, sekarang rangking tujuh. Itu bukan rangkin namanya, karena rangking yang bagus itu cuma sampai tiga' kata-kata itu cukup menghinaku, aku orang yang mudah terbawa perasaan pun merasa gagal menjadi manusia. Apakah aku harus menjadi antagonis agar nilaiku kembali baik? Pasti bukan begitu. Aku sudah sedikit dewasa untuk bisa berpikir. Kurasa.
Yang pasti aku akan memulai semester baru dengan semangat untuk tidak pernah salah. Aku tidak perfeksionis hanya saja aku tidak ingin salah. Aku yakin bisa menjalani semester ini dengan lancar karena aku sudah berhasil menyesuaikan diri dengan Carlos. Tapi ternyata kali ini Bu Regina menepati janjinya saat kami baru naik kelas empat, kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Beliau mengatur ulang posisi duduk kami, terlebih lagi kelas kami kedatangan siswi baru bernama Eclise.
Saat ini aku duduk dibangku kedua dari depan. Sebelah kiri ku adalah tembok kelas dan teman sebangkuku adalah si anak baru Eclise. Menyenangkan, baru kali ini aku duduk dengan perempuan. Rasanya bahagia dan masa depanku akan cerah. Tepat di depan kami ada Icha dan Alan. Yah, tidak apalah dekat Alan asal jangan sebangku saja. Hari-hari berjalan sempurna, aku dan Eclise kompak sebagai teman sebangku. Sedangkan Icha seperti tidak sulit mengatasi Alan. Alan cenderung penurut dengan Icha.
"Alan sih gampang, kalau dia nakal tinggal jitak kepalanya kayak gini" sambil memperagakan di depan kami dan Alan hanya diam walau sedikit menggerutu. Heran, kenapa dia diam saja? Padahal kalau sama aku biasanya dia membalas dengan lebih keras. Sadis gitulah. Tega. Apa Alan sekarang sudah tobat? Kenapa tidak dari dulu waktu masih sebangku denganku? Apa Alan suka Icha? Jadi merinding bulu kudukku.
"Oh, jadi sekarang Alan sudah jadi penurut nih!" godaku.
"Lucia cemburu ya… Cieee…" lontar Icha menimpali.
"Yah, siapa? Makan aja tuh Alan, aku malah seneng nih duduk sama teman yang berguna. Nggak berkelahi terus!"
Alan hanya melirikku sekilas dan kembali diam.
Rupanya kekompakkanku dengan Eclise mengganggu beberapa orang termasuk Bu Regina. Prestasiku jauh lebih baik, bahkan aku jadi lebih ekspresif. Aku lebih berenergi.
Entah karena angin apa Bu Regina mengubah posisi duduk kami. Pas dua minggu kebahagiaanku duduk bersama teman yang kompak berakhir. Bu Regina menukar tempat dudukku dengan Icha. Aku benar-benar terkejut hingga tidak sanggup mengungkapkannya. Tanpa banyak protes aku langsung menurutinya walau dalam hati aku bertanya-tanya, apa salahku sehingga aku harus pindah tempat duduk, dan bersama Alan, LAGI. Sempat ku lirik wajah Icha bersinar penuh cahaya kegembiraan. Dan sepertinya awan mendung menyelimuti aku dan Alan. Untuk masuk ke bangkuku aku harus melewati bangku Alan, yang mana Alan harus menyingkir lebih dulu.
"Awas!!!" satu kata dan aku sedang malas bicara akibat kekecewaanku pada Bu Regina. Alan menyingkir dan membiarkanku masuk duduk diapit oleh tembok dan dirinya di sebelah kanan. Aku enggan menyentuhnya.
Ketidak akuran kami tidaklah seekstrim dulu. Mungkin karena kami sudah sama-sama lebih dewasa. Namun, tetap ada perselisihan yang tidak penting menyangkut prinsip walau kali ini sudah tidak ada batas teritorial diatas meja.
Saat aku hendak keluar dari bangku aku harus melewati Alan dan menyuruhnya menyingkir bukanlah hal mudah, sehingga aku jarang keluar dari bangku. Aku benci Alan. Pernah suatu waktu aku hendak mengumpulkan tugasku dan Alan hanya bergeser sedikit untuk memberiku jalan sehingga kami bergesekkan hebat saling mempertahankan posisi masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah hingga Bu Regina menatap kami dengan dua 'tanduk' diatas kepalanya dan akhirnya Alan mengalah namun ia berhasil menjegal kakiku tetapi aku berhasil menahan keseimbanganku agar tidak jatuh. Beberapa teman dibangku belakang tertawa melihatku. Sialan Alan! Kembali dari mengumpulkan buku aku harus melewati Alan lagi, dan inilah saat pembalasanku. Saat tubuh kami saling bertumbukkan, aku berjalan sambil menginjak kakinya dengan 'tidak sengaja'.
"Ups, maaf!" aku berusaha semenyesal mungkin.
"Bu, Lucia injak kaki saya"
"Saya nggak sengaja Bu, kaki Alan halangi jalan saya. Saya sudah minta maaf kok!"
"Kalian berdua lagi. Alan, mau saya pindahkan diluar? Lucia, mau duduk di kursi Ibu?"
"Tidak, Bu" jawab kami bersama.
Namun, tidak selamanya hari-hari kami seperti itu karena aku mulai berusaha untuk acuh dengan keusilan Alan.
Terkadang kami menjadi tim yang kompak. Alan sebenarnya memiliki otak yang cerdas walau sedikit malas. Aku sering memanfaatkannya. Aku mencoba turut serta dengan keasyikan mereka membicarakan game baru kesukaan mereka.
"Emang perempuan tahu apa!" tukas Rudy.
"Aku tahulah, kakakku suka main itu"
"Ah, nggak usah ikut-ikut!"
Sedangkan Alan hanya diam saja tidak mendukung Rudy ataupun aku. Okelah untuk sikap netralnya kali ini. Sudah kukatakan kami sudah lebih dewasa sekarang.
Dan hari-hari kujalani dengan cukup lancar. Alan bukan lagi masalah. Walau dia tak sepenurut ketika dengan Icha, namun ia tidak lagi keterlaluan seperti kelas empat dulu. Dan prestasiku cukup baik, aku rangking 2 saat kenaikkan kelas. Dan baru kali ini aku ingin tahu rangking berapa yang diraih Alan, tapi dia tak ingin mengatakannya, ya sudahlah.

Apakah teman sekelas kalian ada yang seperti Lucia?

Special Heart

File 2 : Semester Genap malapetaka Lucia.

Yes, ujian sudah selesai. Sebentar lagi semester baru dan itu artinya masa penjajahan akan segera berakhir. Hore. Begitulah suara batinku, kurang lebih. Aku berniat menyongsong hari ini dengan penuh semangat.
Aku melirik dengan senyum sinis pada Alan. Tapi tidak seperti biasa dia hanya diam dan tak ada niatan membalasku. Aku mengerutkan kening keheranan, rasanya tidak biasa. Kenapa anak ini? Apa dia sedih karena tidak sebangku denganku lagi? Waw, jangan-jangan kakak dan Ibu benar tentang Alan kalau dia suka aku lagi! Aku malu dengan daya khayalku yang luar biasa dan mengekspresikannya dengan memandang jijik pada Alan.
Sejak duduk dengan Alan, aku jadi sering mengeluh di rumah. Bahkan, aku sempat mendesak Ibu untuk menyogok Bu Regina agar memindahkan tempat dudukku. Setiap pulang sekolah aku selalu membawa 'oleh-oleh' cerita duka perihal perkelahianku dengan Alan. Hal ini sampai ke telinga Daniel, kakakku yang super menyebalkan. Dan akhirnya aku menjadi bulan-bulanan Daniel ketika kami bertengkar dengan memanfaatkan nama Alan.
"Luci pacarnya Alan! Alan pacarnya Luci!" Daniel nyebutinnya dengan pelafalan bernada yang sangat menjengkelkan sehingga terus terngiang ditelinga. Bahkan saking emosinya aku pernah mengejar Daniel sambil membawa pisau.
Peruhal 'Luci pacarnya Alan dan Alan pacarnya Luci' hanya kami sekeluarga yang tahu. Teman sekolah jangan sampai tahu. Tapi mulut Daniel benar-benar 'bocor' dan tangannya perlu diborgol. Betapa tidak, saat Mae dan Ananda datang ke rumah untuk belajar kelompok, di pintu depan tertulis nama 'ALAN' menggunakan kapur tulis.
"Hah? Alan?" gumam Ananda terkejut.
"Oh, itu…itu Alanis Morisette sebenarnya, idolanya Daniel. Cuma kapurnya habis jadi tulisannya 'ALAN' doank!"
"Oh" kata 'Oh' terlontar dengan tidak ikhlas dari mulut Mae karena dia terlanjur curiga 'ada apa dengan ALAN?'
Tapi syukurlah mereka cukup bodoh karena percaya pada bualanku atau pura-pura bodoh sehingga tidak pernah membahas hal itu di sekolah. Yang pasti Daniel harus membayar semua ini.
Kembali ke Alan. Mengapa anak ini tampak sedih? Belakangan aku tahu dia kerap mengalami diskriminasi dari bibinya karena kedua orang tua Alan sudah meninggal. Karena aku adalah orang yang mudah terbawa perasaan, aku pun bersikap lebih lunak padanya. Aku tidak lagi marah-marah jika ia melewati garis teritorial kami. Kadang aku merasa sedih juga bahwa di semester ini aku tidak lagi sebangku dengannya. Selama seminggu ini kami akur bahkan terlihat bersahabat, semua itu karena aku mau mengalah walau terkadang sifat menyebalkannya kerap muncul. Aku kasihan pada bocah yatim piatu. Aku pun pulang membawa kisah sedih hari itu. Anehnya kedua orang tuaku pun sudah tahu, sebab Ibu adalah teman ayahnya Alan jaman dulu, waktu aku masih di kandungan. Ternyata seperti itu, yah mungkin kami jodoh. Apa? Pikiran macam apa itu? Dasar bocah SD. Aku memaki diriku sendiri.
"Ciyeee, sekarang tambah mesra aja" suara dari balik punggungku itu disusul dengan suara 'plak' hantaman dariku untuk Andy.
"Ciyee Alan ciyee, pacaran sama Lucia" Rudy turut memanaskan suasana. Namun, selamat karena hantamanku tidak menjangkau Rudy, diantara tempat duduk kami ada Alan. Alan kemudian merasa risih.
"Ini dia yang baik-baikkin aku. Bukan aku yang suka sama dia" Alan nyaris membentak Rudy dengan wajah merah "kamu sana jangan dekat-dekat. Kamu suka aku ya? Nanti aku bilangin Bu Regina, lho" Dia melayangkan tatapan tajamnya sambil menghamburkan buku-bukuku yang melewati teritorialnya.
Aku sangat terkejut, wajahku memerah dan aku merasa malu bercampur sedikit bersalah pada Alan. Namun, aku menjadi sangat marah. Akhirnya tanpa banyak bicara kami adu pukul, pukulannya serius dan cukup sakit. Namun, aku kalah jika menangis, aku pun hanya menahan rasa sakit itu sebentar kemudian membalas ketika ia lengah. Seperti itulah kami satu semester kemarin. Dan sekarang aku berjanji tidak akan mengiba pada anak ini lagi. Aku menyesal.
"Ayo anak-anak, keluarkan buku kalian. Kita mulai pelajaran" Bu Regina datang terlambat dengan ekspresi tanpa dosa. Mulutnya masih gerak-gerak ngunyah sisa makanan. Habis sarapan nih orang. Begitu batinku.
"Bu, katanya semester baru posisi duduknya mau diganti?" aku memberanikan diri bicara dan aku bersyukur banyak yang mendukungku.
"Iya, Bu… Iya, Bu" kelas ramai seketika.
"Sudah… Jangan ribut! Yang pindah Carlos tukar tempat sama Rudy. Rudy kalau dekat Alan tetap ribut. Sudah itu saja yang lain tetap"
"Ya….. Bu….!!!" hampir sebagian besar murid berseru kecewa.
"Bu saya juga di pindah saja!" aku masih berusaha.
"Sudah! Tidak ada protes!" Bu Regina sepertinya banyak dosa deh hari ini. Pertama dia datang terlambat. Masuk kelas asyik-asyik makan sarapan. Kedua, dia melanggar janjinya enam bulan yang lalu pada 34 siswa di kelas ini.
"Haduh, duduk sama kamu lagi. Sial banget nasibku" gumam Alan mengejek.
"Harusnya yang bilang begitu kan aku!"
"Bilang aja kamu seneng kan duduk sama aku"
"Ciyee, suami-istri tengkar lagi" itu Andy sang pengamat.
'Plak!!!' suara hantaman buku cetak bahasa Indonesia 'bukk!!!' suara hantaman tas alat tulisku. Masing-masing untuk Alan dan Andy.
"Lucia! Kenapa masih ribut saja? Mau belajar diluar?"
"Nggak, Bu" aku terkejut dengan teguran Bu Regina, air mataku hampir jatuh. Wajahku ditekuk jadi 8 bagian yang artinya aku sangat marah dan kesal. Aku enggan memandang siapapun saat itu juga.
"Lucia!" suara Alan terdengar pelan dan bersahabat.
"…" Pasti dia ingin minta maaf, aku acuhkan sajalah.
"Lucia!" kedua kalinya Alan memanggil dengan bisikan yang akrab.
"Apa sih?!" aku membentak dalam bisik.
"Tuh, dipanggil Bu Regina. Kuping dipakai donk!"
Aku bertambah malu kali ini. Apa yang salah dengan sarapan pagiku? Kenapa hari ini aku mendapatkan sial beruntun? Ya Tuhan, aku mau tobat! Seruku dalam hati.
Sampai di rumah aku langsung berganti baju dan berwudhu kemudian sembahyang. Setelah selesai Ibu menghampiriku di kamar.
"Tumben sholat!"
"Iya, Luci mau tobat"
"Emang sholat apa?"
"Duhur donk, Bu"
"Ini kan masuk waktu Ashar!"
"Masa' sih Bu? Hm, ya udah sama aja, kan sama-sama empat rakaat"
"Eh nggak bisa gitu, niatnya kan beda"
"Biarin deh Bu, sama aja, niat doank juga!"
"Nggak sholat lagi?"
"Nggak!"
"Nggak jadi tobat donk ya?"
"Iiiih, jadi donk Bu"
"Emang kenapa pakai acara tobat?"
"Hari ini Lucia ditimpa kemalangan"
"Hush, bahasamu. Emang kenapa?"
"Lucia nggak jadi pindah tempat duduk. Udah gitu Lucia dimarahin Bu Regina terus di depan kelas. Luci malu huhuhu… Kalau bukan salah sarapan Ibu, ya mungkin Lucia kurang tobat!"
"Ye enak aja nyalahin sarapan Ibu. Ya sudah nggak apa-apa kan duduk sama Alan, dia punya buku lengkap, Luci enak nggak usah beli, pinjem aja sama Alan"
"Dia jahat, Bu! Ibu nggak tahu sih gimana liciknya dia"
"Lucia yang harus santai, jangan cepat marah. Jangan malu-malu berteman dengan semua orang"
"Pokoknya kecuali Alan!"
"Ya udah terserah. Eh emang 'licik' tuh apa?" Ibu yang hampir keluar kamar kembali masuk sebagian untuk kalimat terakhir itu.
"Hah? Nggak tahu, pokoknya liat di Meteor Garden, Sancai bilang Dao ming tse licik!"
"Oh jadi kamu itu Sancai, trus Alan Dao ming tse, gitu!"
"Ibu! Aku nggak mau makan sampai besok!" aku terlalu menganggap serius semua godaan yang berhubungan dengan Alan.
"Uhuy, Lucia pacaraaaan!"
'Brak!!!' aku melempar remote AC ke arah suara yang baru saja lewat. Daniel.
Hari ini aku lupa bawa buku Bahasa Indonesia. Tugas hari ini menyalin pula. Dan tidak mungkin bagiku untuk berbagi buku Alan. Sebenarnya aku mau, tapi pasti Alan yang tidak mau. Lagi pula aku gengsi, kami kan bermusuhan. Akhirnya aku putuskan untuk berbagi buku dengan Sheila. Cukup susah karena aku harus membalikkan tubuhku berkali-kali untuk menyalin penuh tujuh paragraf.
"Lucia, kenapa bolak-balik?" tegur Bu Regina.
"Pinjam buku, Bu. Buku saya ketinggalan"
"Alan nggak bawa juga?"
"Bawa kok, Bu" Alan mengangkat bukunya.
"Kenapa nggak pinjam Alan?"
"Alan pelit!" aku nyaris berbisik karena aku pun belum tahu apakah Alan akan meminjamkan bukunya atau tidak karena aku belum mencoba.
"Alan, kalian itu harus berbagi, jadi orang tidak boleh kikir!"
"Lho, kok saya, Bu? Kan Lucia…"
"Sudah, sudah, pokoknya Ibu nggak mau lihat kalian bertengkar lagi"
Akhirnya kami memutuskan untuk berbagi buku bersama, garis tengah buku tepat di garis batas teritorial. Alan sudah sampai halaman berikutnya karena dia tidak perlu susah payah membalikkan badan seperti aku tadi. Sedangkan, aku baru sampai paragraf ketiga dihalaman sebelumnya. Jadi aku harus rendah diri menanti Alan menulis barulah aku membalik halaman yang kubutuhkan kemudian menyalin cepat satu-dua kalimat sebelum Alan membaca halaman yang dia kerjakan. Begitulah selama beberapa menit. Yang jelas aku kapok tidak bawa buku.
"Yang sudah silahkan dikumpulkan dan boleh istirahat, yang belum selesaikan dulu baru boleh istirahat!" perintah Bu Regina.
Aku termasuk dalam jajaran murid yang tertunda istirahatnya karena 'human error'. Sedangkan Alan sudah selesai. Tanpa banyak bicara ia berdiri dan mengumpulkan tulisannya kemudian keluar dan istirahat. Wah, dia tidak menceramahiku. Ku kira dia bakal bilang 'awas kalau sampai bukuku kotor!'. Baguslah kalau dia cuek. Setelah dia keluar aku langsung mendekatkan buku cetak itu agar aku mudah menyalin dengan cepat. Sementara sedang serius menulis dengan cepat tiba-tiba Alan masuk lagi, ternyata uang jajannya ketinggalan. Dan dia melihatku nyaris memeluk bukunya di atas meja. Dengan cepat aku menggeser buku itu kembali ke garis batas. Mukaku entah seperti apa, yang jelas aku malu. Dan sisa paragraf terakhir ku selesaikan dengan menjulurkan leher karena buku itu berada di garis teritorial sehingga tidak efektif bagiku menyalin dengan cepat. Hah, dasar garis teritorial menyusahkan! Dan itu aku yang mencetuskan. Ya, Tuhan.
Mengapa aku semakin di timpa banyak kesialan ketika bersama Alan? Sepertinya aku yang sedikit berlebihan deh. Toh, Alan bahagia banget sama hidupnya. Cuma aku yang merasa tertindas. Aku belum cukup dewasa buat 'santai aja'.

Apakah diantara kalian ada yang seperti Lucia? Hehehe!

Hai, Salam Kenal!

Aku akan mulai menulis cerita bersambungku. Sebenarnya aku ingin membuatnya dalam bentuk manga dan ikutan dalam Line webtoon challenge. Bahkan aku sudah belajar menggambar secara otodidak dari internet. Tapi gambarku sangat jelek dan tidak natural. Kalau ada diantara pembaca yang bisa mengaplikasikannya dalam bentuk manga aku akan sangat senang sekali, mungkin kita bisa bekerja sama!
Nah, cerita kali ini seputar kehidupan remaja. Semoga kalian suka ya!

Special Heart

File 1: 'Perjodohan' ala Bu Regina

"Sekarang kalian sudah kelas empat, saatnya untuk belajar dan jangan main-main… Alan, kamu ngapain dibelakang situ? Gak perhatikan Ibu lagi bicara ya?"
"Maaf, Bu" sekejap bocah bernama Alan menghentikan kesibukkannya bersama Rudy.
"Ini kenapa yang laki-laki pada duduk dibelakang? Itu Carlos kenapa tidak dapat teman? Carlos, lap ingus kamu!"
"Pakai kertas, Bu?"
"Haduh, sapa punya tisu?"
"Carissa….." sontak murid sekelas menyerukan nama Carissa dan saat itu juga Carissa melotot seolah marah tapi ingin menangis juga.
"Ini, Bu" gerakannya pelan seolah dia ingin menunjukkan ketidak ikhlasannya.
"Carlos minta satu ya… Kalau bantu teman yang ikhlas, nanti dapat pahala" Bu Regina berusaha menghibur Carissa.
Dan Carissa hanya mengangguk pasrah, setelah itu dia melototin Carlos. Makanya kalo sudah tahu ingusan bawa tisu donk, kira-kira begitu batin Carissa. Dan beberapa anak laki-laki cekikikan mensyukuri kesialan yang menimpa Carissa.
"Makasih Carissa…!" saking bersemangatnya ingus Carlos menggelembung menjadi balon. Sontak Carissa, anak sekelas termasuk Bu Regina meringis ngeri.
"Hiiii!!!"
Entah salah apa, Carissa jarang punya teman di kelas, mungkin karena dia terlalu manja sehingga mereka semua berpikir ulang untuk berteman dengan Carissa, karena kalau salah sedikit saja mereka bisa dipanggil kepala sekolah. Yah, Ibunya Carissa teman arisan Bu Sophia, si kepala sekolah yang agung.
"Sudah-sudah, sekarang Ibu yang akan mengatur tempat duduk kalian. Posisi duduk ini berlaku hingga semester depan, mengerti!"
"Me…nger…ti…!" kalau jawabnya serentak pasti begitulah bunyinya. Ada nadanya.
"Alan, kamu maju paling depan, dekat meja Ibu. Biar Ibu gampang awasi kamu. Kamu tau, nilai kamu makin turun saja di kelas tiga. Jangan harap Ibu akan seramah Ibu Minah, ya!"
Alan memikul tas punggungnya dan berjalan lesu ke depan. Haha, rasakan!
"Selanjutnya, Carissa di bangku nomer tiga sama Carlos" Entah mengapa Bu Regina 'menjodohkan' Carissa dengan Carlos, apa karena mereka Carissa selalu membawa tisu dan Carlos selalu ingusan? Pasangan serasi.
"Nggak mau! Nggak mau! Bu… Nggak mau…huhuhu" makin lama kata-kata itu terdengar menjadi raungan tangis yang menjadi-jadi. Dan murid sekelas yang awalnya tertawa pecah menjadi hening. Prihatin dengan Carissa.
"Carissa kenapa?" tanya Ibu Regina dengan penuh penghasutan eh perhatian.
"Nanti barang-barang saya kotor kena ingusnya"
"Eh, kalian nggak boleh begitu. Carlos anaknya baik kok, cuma lagi pilek aja, ya kan Carlos"
"Kata mama ini alergi" jawab Carlos polos.
"Tuh kan, Bu. Kalau alergi kan nggak bisa sembuh" Carissa melanjutkan raungannya.
"Eh, sudah-sudah. Kalau begitu Carissa duduk di bangku nomer dua dengan Galih, ya"
Carissa mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Bu, saya kalau ingusan meluber sampai kaos kaki lho!" teriak Galih.
"Bu Guru……!!!!" tangis Carissa kembali
pecah. Dan seisi kelas tertawa.
"Galih, jangan godain Carissa. Carissa jangan nangis lagi, Ibu pusing!" akhirnya Galih dan Carissa berhasil dalam 'perjodohan' ini.
"Selanjutnya, Rudy kamu duduk sama Mae di paling depan sini deret kedua"
"Asyik, deket Alan!" pekik Rudy spontan
"Iya, biar ibu bisa awasi kalian berdua si biang ribut"
"Haha, sama Mae!" ejek Alan pelan membuat Rudy kesal.
"Bu, Alan kok sendirian?" ujar Rudy sembari menunjuk Alan.
"Sebentar" Bu Regina seolah berpikir keras untuk mencari 'jodoh' yang tepat untuk Alan. "Nah, Ananda…" mendengar nama Ananda disebut beberapa siswi yang belum dipindah menghela nafas lega "…Ananda, kamu duduk dengan Luis. Jadi Lucia, kamu pindah dengan Alan!"
Apa? Aku?!
Setelah sekian menit berdoa dalam hati agar tidak sebangku dengan anak paling dijauhi. Merasa lega sudah 'dijodohkan' dengan Luis. Akhirnya harus pindah bersama Alan. Kepalaku seperti kejatuhan kamus besar Bahasa Indonesia dari lantai tiga. Aku langsung berupaya menggunakan siasat Carissa.
"Bu Guru Regina… Saya nggak mau duduk sama dia, Bu. Sama Luis saja… Huhuhu"
"Loh, kenapa Lucia?"
Hah? Kenapa? Aku langsung bingung karena tidak menyiapkan alasan.
"Karena Alan nakal, Bu… Huhuhu"
"Argh… Nggak ada alasan begitu. Justru Alan duduk sama Lucia supaya Alan tidak nakal lagi. Alan pasti malu kalau mau nakal, kan ada Lucia"
"Tapi…tapi…" akting nangis sesenggukanku pun gagal.
Akhirnya aku pun menenteng tas dan buku-buku ku lalu pindah ke depan. Dengan mata sedikit sembab aku melemparkan tatapan permusuhan dengan Alan. Aku duduk sangat menepi dan nyaris jatuh. Sebenarnya aku pun tidak mengerti apa salah Alan. Kenapa teman-teman perempuan satu kelas tidak suka dengan Alan. Apa Alan tipe lelaki cabul? Atau penindas? Aku makin ngeri membayangkan yang tidak-tidak.
Oh, ya aku pindah ke sekolah ini saat kelas tiga. Dan waktu itu teman-temanku berbeda dengan yang sekarang. Saat kenaikkan kelas empat, beberapa teman kami pindah ke kelas sebelah dan sebaliknya murid kelas sebelah pindah ke kelas kami, termasuk Alan. Ternyata Alan terkenal anak yang bandel dan sulit mengalah bahkan dengan perempuan sehingga dia bukanlah favorit para siswi di kelas. Dan aku percaya pada opini yang beredar.
"Ini batas tempat duduk kita. Kamu dan barang-barangmu nggak boleh lewati batas ini. Titik!" aku langsung membuat batas ditengah meja menggunakan tipe-x dengan penuh percaya diri.
Alan tidak mengindahkan peringatanku bahkan dia sengaja meletakkan bukunya tepat diatas garis yang artinya melewati teritorialnya. Aku langsung menyingkirkan bukunya hingga jatuh ke lantai.
"Bu, Lucia coret-coret meja pakai tipe-x" tiba-tiba terdengar suara nyaring Alan membahana di langit-langit kelas.
Aku tertohok dan tak sanggup bicara. Air mataku mulai tertampung. Duh, kenapa nih anak tega lapor ke guru? Akhirnya aku sadar betapa menyebalkannya anak ini.
"Rasakan!" bisik Alan.
Akhirnya aku dimarahi Bu Regina dan beliau menyuruhku tidak mengulangnya lagi dan belajar berteman dengan Alan. Namun, aku sukses menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Ciyee, Lucia sama Alan pacaran" bisikan setan itu terdengar lirih tepat dari bangku belakang. Andy si usil.
"Nggak, nggak. Kamu itu yang pacaran sama Sheila" aku nyaris berteriak.
"Lucia! Kenapa lagi? Sudah diam, pelajaran mau mulai"
Wajahku merah padam karena malu bercampur marah sebelumnya aku tidak pernah ditegur didepan murid-murid. Aku merasa semua mata tertuju padaku. Dan aku menyalahkan Alan penyebab semua ini. Sepertinya aku dapat membayangkan bagaimana nasibku satu semester ke depan. Paling tidak setelah itu aku tidak akan duduk dengan Alan lagi. Carlos masih lebih baik. Sekilas aku menengok ke arah Carlos dimana ia tidak sadar ingusnya hampir jatuh saat ia sedang menulis. Aku meringis geli. Haduh!