Jumat, 18 Maret 2016

Special Heart

File 2 : Semester Genap malapetaka Lucia.

Yes, ujian sudah selesai. Sebentar lagi semester baru dan itu artinya masa penjajahan akan segera berakhir. Hore. Begitulah suara batinku, kurang lebih. Aku berniat menyongsong hari ini dengan penuh semangat.
Aku melirik dengan senyum sinis pada Alan. Tapi tidak seperti biasa dia hanya diam dan tak ada niatan membalasku. Aku mengerutkan kening keheranan, rasanya tidak biasa. Kenapa anak ini? Apa dia sedih karena tidak sebangku denganku lagi? Waw, jangan-jangan kakak dan Ibu benar tentang Alan kalau dia suka aku lagi! Aku malu dengan daya khayalku yang luar biasa dan mengekspresikannya dengan memandang jijik pada Alan.
Sejak duduk dengan Alan, aku jadi sering mengeluh di rumah. Bahkan, aku sempat mendesak Ibu untuk menyogok Bu Regina agar memindahkan tempat dudukku. Setiap pulang sekolah aku selalu membawa 'oleh-oleh' cerita duka perihal perkelahianku dengan Alan. Hal ini sampai ke telinga Daniel, kakakku yang super menyebalkan. Dan akhirnya aku menjadi bulan-bulanan Daniel ketika kami bertengkar dengan memanfaatkan nama Alan.
"Luci pacarnya Alan! Alan pacarnya Luci!" Daniel nyebutinnya dengan pelafalan bernada yang sangat menjengkelkan sehingga terus terngiang ditelinga. Bahkan saking emosinya aku pernah mengejar Daniel sambil membawa pisau.
Peruhal 'Luci pacarnya Alan dan Alan pacarnya Luci' hanya kami sekeluarga yang tahu. Teman sekolah jangan sampai tahu. Tapi mulut Daniel benar-benar 'bocor' dan tangannya perlu diborgol. Betapa tidak, saat Mae dan Ananda datang ke rumah untuk belajar kelompok, di pintu depan tertulis nama 'ALAN' menggunakan kapur tulis.
"Hah? Alan?" gumam Ananda terkejut.
"Oh, itu…itu Alanis Morisette sebenarnya, idolanya Daniel. Cuma kapurnya habis jadi tulisannya 'ALAN' doank!"
"Oh" kata 'Oh' terlontar dengan tidak ikhlas dari mulut Mae karena dia terlanjur curiga 'ada apa dengan ALAN?'
Tapi syukurlah mereka cukup bodoh karena percaya pada bualanku atau pura-pura bodoh sehingga tidak pernah membahas hal itu di sekolah. Yang pasti Daniel harus membayar semua ini.
Kembali ke Alan. Mengapa anak ini tampak sedih? Belakangan aku tahu dia kerap mengalami diskriminasi dari bibinya karena kedua orang tua Alan sudah meninggal. Karena aku adalah orang yang mudah terbawa perasaan, aku pun bersikap lebih lunak padanya. Aku tidak lagi marah-marah jika ia melewati garis teritorial kami. Kadang aku merasa sedih juga bahwa di semester ini aku tidak lagi sebangku dengannya. Selama seminggu ini kami akur bahkan terlihat bersahabat, semua itu karena aku mau mengalah walau terkadang sifat menyebalkannya kerap muncul. Aku kasihan pada bocah yatim piatu. Aku pun pulang membawa kisah sedih hari itu. Anehnya kedua orang tuaku pun sudah tahu, sebab Ibu adalah teman ayahnya Alan jaman dulu, waktu aku masih di kandungan. Ternyata seperti itu, yah mungkin kami jodoh. Apa? Pikiran macam apa itu? Dasar bocah SD. Aku memaki diriku sendiri.
"Ciyeee, sekarang tambah mesra aja" suara dari balik punggungku itu disusul dengan suara 'plak' hantaman dariku untuk Andy.
"Ciyee Alan ciyee, pacaran sama Lucia" Rudy turut memanaskan suasana. Namun, selamat karena hantamanku tidak menjangkau Rudy, diantara tempat duduk kami ada Alan. Alan kemudian merasa risih.
"Ini dia yang baik-baikkin aku. Bukan aku yang suka sama dia" Alan nyaris membentak Rudy dengan wajah merah "kamu sana jangan dekat-dekat. Kamu suka aku ya? Nanti aku bilangin Bu Regina, lho" Dia melayangkan tatapan tajamnya sambil menghamburkan buku-bukuku yang melewati teritorialnya.
Aku sangat terkejut, wajahku memerah dan aku merasa malu bercampur sedikit bersalah pada Alan. Namun, aku menjadi sangat marah. Akhirnya tanpa banyak bicara kami adu pukul, pukulannya serius dan cukup sakit. Namun, aku kalah jika menangis, aku pun hanya menahan rasa sakit itu sebentar kemudian membalas ketika ia lengah. Seperti itulah kami satu semester kemarin. Dan sekarang aku berjanji tidak akan mengiba pada anak ini lagi. Aku menyesal.
"Ayo anak-anak, keluarkan buku kalian. Kita mulai pelajaran" Bu Regina datang terlambat dengan ekspresi tanpa dosa. Mulutnya masih gerak-gerak ngunyah sisa makanan. Habis sarapan nih orang. Begitu batinku.
"Bu, katanya semester baru posisi duduknya mau diganti?" aku memberanikan diri bicara dan aku bersyukur banyak yang mendukungku.
"Iya, Bu… Iya, Bu" kelas ramai seketika.
"Sudah… Jangan ribut! Yang pindah Carlos tukar tempat sama Rudy. Rudy kalau dekat Alan tetap ribut. Sudah itu saja yang lain tetap"
"Ya….. Bu….!!!" hampir sebagian besar murid berseru kecewa.
"Bu saya juga di pindah saja!" aku masih berusaha.
"Sudah! Tidak ada protes!" Bu Regina sepertinya banyak dosa deh hari ini. Pertama dia datang terlambat. Masuk kelas asyik-asyik makan sarapan. Kedua, dia melanggar janjinya enam bulan yang lalu pada 34 siswa di kelas ini.
"Haduh, duduk sama kamu lagi. Sial banget nasibku" gumam Alan mengejek.
"Harusnya yang bilang begitu kan aku!"
"Bilang aja kamu seneng kan duduk sama aku"
"Ciyee, suami-istri tengkar lagi" itu Andy sang pengamat.
'Plak!!!' suara hantaman buku cetak bahasa Indonesia 'bukk!!!' suara hantaman tas alat tulisku. Masing-masing untuk Alan dan Andy.
"Lucia! Kenapa masih ribut saja? Mau belajar diluar?"
"Nggak, Bu" aku terkejut dengan teguran Bu Regina, air mataku hampir jatuh. Wajahku ditekuk jadi 8 bagian yang artinya aku sangat marah dan kesal. Aku enggan memandang siapapun saat itu juga.
"Lucia!" suara Alan terdengar pelan dan bersahabat.
"…" Pasti dia ingin minta maaf, aku acuhkan sajalah.
"Lucia!" kedua kalinya Alan memanggil dengan bisikan yang akrab.
"Apa sih?!" aku membentak dalam bisik.
"Tuh, dipanggil Bu Regina. Kuping dipakai donk!"
Aku bertambah malu kali ini. Apa yang salah dengan sarapan pagiku? Kenapa hari ini aku mendapatkan sial beruntun? Ya Tuhan, aku mau tobat! Seruku dalam hati.
Sampai di rumah aku langsung berganti baju dan berwudhu kemudian sembahyang. Setelah selesai Ibu menghampiriku di kamar.
"Tumben sholat!"
"Iya, Luci mau tobat"
"Emang sholat apa?"
"Duhur donk, Bu"
"Ini kan masuk waktu Ashar!"
"Masa' sih Bu? Hm, ya udah sama aja, kan sama-sama empat rakaat"
"Eh nggak bisa gitu, niatnya kan beda"
"Biarin deh Bu, sama aja, niat doank juga!"
"Nggak sholat lagi?"
"Nggak!"
"Nggak jadi tobat donk ya?"
"Iiiih, jadi donk Bu"
"Emang kenapa pakai acara tobat?"
"Hari ini Lucia ditimpa kemalangan"
"Hush, bahasamu. Emang kenapa?"
"Lucia nggak jadi pindah tempat duduk. Udah gitu Lucia dimarahin Bu Regina terus di depan kelas. Luci malu huhuhu… Kalau bukan salah sarapan Ibu, ya mungkin Lucia kurang tobat!"
"Ye enak aja nyalahin sarapan Ibu. Ya sudah nggak apa-apa kan duduk sama Alan, dia punya buku lengkap, Luci enak nggak usah beli, pinjem aja sama Alan"
"Dia jahat, Bu! Ibu nggak tahu sih gimana liciknya dia"
"Lucia yang harus santai, jangan cepat marah. Jangan malu-malu berteman dengan semua orang"
"Pokoknya kecuali Alan!"
"Ya udah terserah. Eh emang 'licik' tuh apa?" Ibu yang hampir keluar kamar kembali masuk sebagian untuk kalimat terakhir itu.
"Hah? Nggak tahu, pokoknya liat di Meteor Garden, Sancai bilang Dao ming tse licik!"
"Oh jadi kamu itu Sancai, trus Alan Dao ming tse, gitu!"
"Ibu! Aku nggak mau makan sampai besok!" aku terlalu menganggap serius semua godaan yang berhubungan dengan Alan.
"Uhuy, Lucia pacaraaaan!"
'Brak!!!' aku melempar remote AC ke arah suara yang baru saja lewat. Daniel.
Hari ini aku lupa bawa buku Bahasa Indonesia. Tugas hari ini menyalin pula. Dan tidak mungkin bagiku untuk berbagi buku Alan. Sebenarnya aku mau, tapi pasti Alan yang tidak mau. Lagi pula aku gengsi, kami kan bermusuhan. Akhirnya aku putuskan untuk berbagi buku dengan Sheila. Cukup susah karena aku harus membalikkan tubuhku berkali-kali untuk menyalin penuh tujuh paragraf.
"Lucia, kenapa bolak-balik?" tegur Bu Regina.
"Pinjam buku, Bu. Buku saya ketinggalan"
"Alan nggak bawa juga?"
"Bawa kok, Bu" Alan mengangkat bukunya.
"Kenapa nggak pinjam Alan?"
"Alan pelit!" aku nyaris berbisik karena aku pun belum tahu apakah Alan akan meminjamkan bukunya atau tidak karena aku belum mencoba.
"Alan, kalian itu harus berbagi, jadi orang tidak boleh kikir!"
"Lho, kok saya, Bu? Kan Lucia…"
"Sudah, sudah, pokoknya Ibu nggak mau lihat kalian bertengkar lagi"
Akhirnya kami memutuskan untuk berbagi buku bersama, garis tengah buku tepat di garis batas teritorial. Alan sudah sampai halaman berikutnya karena dia tidak perlu susah payah membalikkan badan seperti aku tadi. Sedangkan, aku baru sampai paragraf ketiga dihalaman sebelumnya. Jadi aku harus rendah diri menanti Alan menulis barulah aku membalik halaman yang kubutuhkan kemudian menyalin cepat satu-dua kalimat sebelum Alan membaca halaman yang dia kerjakan. Begitulah selama beberapa menit. Yang jelas aku kapok tidak bawa buku.
"Yang sudah silahkan dikumpulkan dan boleh istirahat, yang belum selesaikan dulu baru boleh istirahat!" perintah Bu Regina.
Aku termasuk dalam jajaran murid yang tertunda istirahatnya karena 'human error'. Sedangkan Alan sudah selesai. Tanpa banyak bicara ia berdiri dan mengumpulkan tulisannya kemudian keluar dan istirahat. Wah, dia tidak menceramahiku. Ku kira dia bakal bilang 'awas kalau sampai bukuku kotor!'. Baguslah kalau dia cuek. Setelah dia keluar aku langsung mendekatkan buku cetak itu agar aku mudah menyalin dengan cepat. Sementara sedang serius menulis dengan cepat tiba-tiba Alan masuk lagi, ternyata uang jajannya ketinggalan. Dan dia melihatku nyaris memeluk bukunya di atas meja. Dengan cepat aku menggeser buku itu kembali ke garis batas. Mukaku entah seperti apa, yang jelas aku malu. Dan sisa paragraf terakhir ku selesaikan dengan menjulurkan leher karena buku itu berada di garis teritorial sehingga tidak efektif bagiku menyalin dengan cepat. Hah, dasar garis teritorial menyusahkan! Dan itu aku yang mencetuskan. Ya, Tuhan.
Mengapa aku semakin di timpa banyak kesialan ketika bersama Alan? Sepertinya aku yang sedikit berlebihan deh. Toh, Alan bahagia banget sama hidupnya. Cuma aku yang merasa tertindas. Aku belum cukup dewasa buat 'santai aja'.

Apakah diantara kalian ada yang seperti Lucia? Hehehe!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar