Jumat, 18 Maret 2016

Special Heart

File 4 : Mak comblang Carissa

Pertengahan semester di kelas enam. Sejauh ini aku sangat bahagia karena setelah 2 tahun duduk dibangku paling depan, kali ini aku duduk dibangku paling belakang. Karena anak pintar letaknya dibelakang dan yang kurang pintar didepan. Setelah 2 tahun bertemu Bu Regina, akhirnya kami terbebas dan diganti dengan Bu Akila. Dan yang paling penting adalah setelah hampir 2 tahun sebangku dengan Alan, akhirnya kami terpisah juga. Alan termasuk berkebutuhan lebih jadi dia duduk di tengah. Kali ini aku sebangku dengan Calvin, anaknya baik, tidak sombong, cenderung pendiam tetapi ramah, lemah lembut pula. Apa dia punya bibit bencong ya? Ah, harusnya aku bersyukur dapat teman sebangku sempurna seperti Calvin.
Aku sudah makin dewasa dalam menyikapi rasa malu. Aku tidak lagi antagonis, dengan Calvin aku pun berteman sangat baik.
Suatu hari hormon kedewasaan Carissa tak sanggup dibendung. Dia mulai membicarakan laki-laki yang menurutnya tampan dan menarik. Tentu saja, saat itu dikelas kami kedatangan murid baru yang cukup menarik, namanya Rico. Anaknya sangat cuek. Jarang bicara dengan perempuan. Ajaib adalah ketika dia mau bicara dengan perempuan walau hanya sedikit. Carissa benar-benar kepincut dan putus urat malunya, ia kerap menghampiri meja Rico saat jam istirahat dan basa-basi sampai benar-benar basi asalkan dapat lebih dekat dengan Rico. Ejekan teman sekelas tak dihiraukannya. Aku sempat heran dengan mental Carissa yang menjadi begitu berani dan masa bodoh asalkan keinginannya tercapai.
"Cieee, Carissa suka sama Rico!" ejek Luis "Carissa pacarnya Rico, Carissa pacarnya Rico" dia pun memberi nada pada kalimatnya, aku teringat akan Daniel yang bertindak sama sehingga aku ingin menghajar Luis. Sementara itu Rico tidak menolak maupun menerima, dia cuek seperti biasa. Hal itu membuat Carissa berpikir bahwa Rico setuju dibilang berpacaran dengannya. Ia bahkan sangat gembira walau Rico tak pernah menanggapi perasaannya.
Kemudian untuk menemani 'kesuksesannya' mendekati Rico. Carissa menjodoh-jodohkan antar teman sekelas. Tentu saja hanya mereka yang populer. Seperti Icha dengan Alan, Tari dengan Rudy. Kemudian Mae tidak setuju, ia ingin dijodohkan dengan Alan sehingga ia sering bersikap aneh dengan mendekati Alan. Bahkan sampai membelikan Alan jajan dan mainan yang sedang hits saat itu. Tentu Alan menolak dengan keras dan menjauhi Mae.
"Kamu apaan sih, aku nggak mau ini, dan jangan dekat-dekat aku lagi!"
"Nggak mau, aku nggak mau kamu sama Icha, aku mau sama kamu!" sambil merangkul lengan Alan. Karena malu, Alan mendorong Mae hingga jatuh. Mae menangis namun tidak patah arang ia tetap gigih ingin diakui sebagai pacar Alan. Aku hanya tertawa konyol menyaksikan mereka.
"Ya sudah, Alan punya Mae kok, aku nggak usah" Icha berusaha menenangkan Mae. Padahal Icha hanya korban pencomblangan Carissa. Icha adalah teman paling dewasa sehingga banyak dari kami yang senang berteman dengannya.
"Nggak bisa, pokoknya Icha sama Alan!" tukas Carissa. Ini lagi satu sosok yang tidak dewasa. Akhirnya mereka pun bermusuhan.
Hei kalian yang memperebutkan Alan, bagaimana dengan aku? Aku hampir dua tahun duduk dengan Alan lho. Begitu kira-kira protes batinku yang tidak pernah terpublikasi.
"Oh, iya Lucia sama Calvin pacarannya, mereka akrab kan sebangku" tutur Carissa spontan.
Yah kami berdua adalah nominasi asal-asalan paling akhir asal ada pasangan. Namun kami tidak menanggapinya, kami sama-sama saling mengerti dan pencomblangan itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap hubungan yang sudah ada. Lain halnya dengan Tari, merasa senang dicomblangkan dengan Rudy ia pun menanggapinya dengan semangat. Ketika Rudy nakal di kelas maka Tari akan turun tangan. Seperti istri mengurus suami. Begitu juga dengan Icha, namun sepertinya Icha hanya mengikuti alur permainan yang sedang musim saja. Main jodoh-jodohan. Sementara para laki-laki cuek dengan ke ge-er an para siswi.
"Ayo donk, Lucia si Calvin diatur, tuh dia nggak duduk dibangkunya" tutur Tari.
"Oh, Calvin tu gampang diatur kok, sekarang dia lagi nyari duit buat kita" timpalku bercanda.
"Ciyeee Calvin sama Lucia!" spontan Alan menggoda Calvin yang sedang bermain dengannya. Sementara itu Calvin hanya cuek seperti biasa.
Aku sedikit merinding mendapatkan perhatian tidak langsung dari Alan karena selama dikelas enam aku dan Alan sudah jarang berkomunikasi.
"Lucia, pinjam tugas!" tiba-tiba Rico dengan polosnya datang menghampiriku.
"Rico kamu selingkuh ya, kamu nggak boleh ngomong sama Lucia!" bentak Carissa.
"Kalau begitu kamu kerjain tugasku, aku mau main sama Luis"
"Ya udah sini!"
Sementara aku sedikit berbangga hati karena menjadi salah satu perempuan yang diajak bicara oleh Rico lebih dahulu, termasuk keajaiban kan. Tapi biasa saja sih.
Lelah dengan Alan, Mae mencari pasangan baru. Rupanya ia iri dengan 'kegilaan' jodoh-jodohan yang dilakukan para siswi. Dan dia pun menjatuhkan pilihannya pada Calvin.
"Calvin pacarku, Lucia sama Luis saja!" begitu tiba-tiba dia menghampiri bangku kami dan menggamit lengan Calvin.
"Eh aku nggak mau, kan sudah ada Lucia" Calvin menolak dengan lebih halus daripada Alan.
"Pokoknya nggak boleh, awas kamu Lucia kalau sampai ambil Calvin. Calvin ayo aku traktir ke kantin!"
"Idih sapa juga, kamu aja deh, aku jomblo" tukasku.
"Nggak mau, duitku banyak kok!" tolak Calvin.
Mae kembali tidak terima dengan penolakan seorang laki-laki hingga ia berteriak gaduh di kelas dan mengundang perhatian guru yang kebetulan lewat. Akhirnya Bu Akila marah dengan ajang perjodohan Carissa dan membubarkannya saat itu juga. Sementara itu Mae masih berusaha mendapatkan perhatian Calvin. Oh, Calvin yang malang.
Kesimpulanku adalah, sikap kasar Alan pada Mae mengingatkan sikap kasarnya padaku dulu. Sebenarnya Alan menyukai kami atau justru sangat membenci kami?
Sudahlah, kelas enam berakhir dengan damai karena kami semua dinyatakan lulus ujian. Dan akhirnya kami berpencar tidak lagi satu sekolah. Alan dan beberapa teman lainnya melanjutkan sekolahnya di lembaga swasta. Sedangkan aku di sekolah negeri. Kami pun memulai kehidupan kami yang baru di sekolah lanjutan. Perasaanku yang masih belum terdefinisikan akhirnya terlupakan. Tapi terkadang aku bertanya-tanya, sebenarnya bagaimana perasaan Alan padaku?

Menurut kalian bagaimana?
Baiklah, season satu sudah berakhir, sampai jumpa di season berikutnya ya.
P. S: kalau ada yang bisa aplikasikan ke bentuk manga aku minta tolong banget ya kita kerja sama, pasti seru.
Terimakasih banyak sudah membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar