Jumat, 18 Maret 2016

Special Heart

File 3 : Adaptasi ala Lucia.

Kenaikkan kelas lima. Itu artinya akan ada harapan baru bagiku untuk berganti teman sebangku. Namun tetap dengan guru yang sama, Bu Regina. Entah mengapa beliau betah dengan wajah kami semua. Kali ini tidak ada mutasi murid dari kelas sebelah ke sebelah. Jadi di kelas ini kami seperti tidak naik kelas berjamaah. Dan pasti akan sangat tidak adil kalau aku sebangku dengan Alan lagi. Kesialan tidak seburuk itu, kan!
Pengaturan posisi duduk seperti biasa. Kali ini aku duduk dengan Carlos. Yah, mungkin akan lebih damai. Pikirku.
"Duh, Carlos kamu sudah kelas lima kok ingusnya belum ilang juga?" aku berusaha tidak mengejeknya.
"Ini kan alergi, jadi nggak bisa sembuh. Hehehe"
"Awas kamu ya, jangan dekat-dekat!" aduh, kenapa sifat antagonisku begitu mudah muncul ya? Hampir menyesal.
Terkadang aku keterlaluan dengan Carlos. Pernah suatu hari saat suasana hatiku sedang buruk. Seperti anak perempuan PMS, tapi saat itu aku belum pubertas. Entah ini sifat apa, yang jelas sifat burukku. Sifat yang timbul untuk menutupi sifat pemaluku yang sebenarnya. Bahkan Carlos sampai meminjam buku pada Antonius di meja sebelah karena aku enggan membagi buku. Aku tidak banyak bicara namun buku cetak matematika itu ku letakkan dibawah buku tulisku sehingga hanya aku yang bisa lihat. Carlos susah payah melirik soal dari bukuku dan ku biarkan saja. Aku menyesal, dan hidupku menjadi tidak sempurna karena Carlos tipe laki-laki yang mengalah. Bahkan dia tidak marah walau aku sudah bersikap buruk padanya. Berbeda dengan Alan yang selalu melawan apapun kondisinya. Hm, Alan… Sepertinya dia sudah damai duduk sama Icha. Apalagi Icha kan juara kelas. Pasti Alan senang bisa dapat contekan, bisa minta diajarkan. Waduh, kenapa aku jadi cemburu gini ya? Bukan, aku yang kepingin duduk sama Icha bukan sama Alan. Aku bergelut dengan batinku sendiri.
Oh, ya kalau kalian bertanya-tanya kenapa kami di dudukkan berpasangan itu karena anak laki-laki sering main sendiri ketika pelajaran berlangsung. Sedangakan anak perempuan lebih perhatian. Dengan membuat kami menjadi berpasangan diharapkan anak laki-laki pun dengan 'terpaksa' akan memperhatikan pelajaran dikelas. Kecuali Sheila da Andy, mereka pasangan serasi. Sheila adalah tipe perempuan dewasa yang bisa 'santai saja' bahkan ketika ujian berlangsung. Ia sering meladeni Andy bermain saat jam pelajaran, bahkan mereka bercerita perihal sarapan apa tadi pagi di rumah. Bu Regina harus menukar posisi duduk mereka karena tidak efektif.
Selama semester ganjil ini aku sudah berhasil move on dari Alan. Bahkan hubungan kami jadi lebih 'biasa saja' artinya kami memang tidak akrab namun juga tidak pernah bertengkar. Itu karena letak kami yang berjauhan. Namun, setiap melihat Alan, aku merasakan sesuatu yang aku sendiri malu untuk menyimpulkannya. Akhirnya yang muncul adalah sifat antagonisku. Aku tidak suka dengan Alan! Titik!.
Menjelang akhir semester aku pun makin menyadari bahwa aku tidak bisa terus menutupi sifat pemaluku dengan antagonis yang meledak-ledak. Aku belajar lebih cuek dengan 'apa kata orang' aku menjadi lebih acuh dan tidak terlalu serius menanggapi sesuatu. Aku jadi semakin baik dengan Carlos, kami kerap berbagi buku, aku memberikannya jawaban soal sehingga pernah suatu waktu nilai matematikanya lebih tinggi daripada nilaiku, akhir ya aku bertekad tidak akan memberikan semua jawaban padanya lagi, yah 50% sudah lebih dari cukup kan. Pokoknya aku berusaha menjadi teman sebangku yang kompak. Sayangnya si Carlos memang bodoh, ketika dia sudah ingin main, dia tida peduli dengan tugas-tugasnya. Kami tidak bisa kompak. Yah, paling tidak aku sudah mengurangi sikap 'why so serious' ku.
DAN hasilnya, nilai raportku semester ini terjun bebas. Ini adalah hasil 'santai saja'. Ternyata aku tidak cukup cerdas mengartikan kata itu. Ibu tidak marah dengan nilaiku tapi beliau hanya berkata 'huh gimana nih? Kemarin rangking dua, sekarang rangking tujuh. Itu bukan rangkin namanya, karena rangking yang bagus itu cuma sampai tiga' kata-kata itu cukup menghinaku, aku orang yang mudah terbawa perasaan pun merasa gagal menjadi manusia. Apakah aku harus menjadi antagonis agar nilaiku kembali baik? Pasti bukan begitu. Aku sudah sedikit dewasa untuk bisa berpikir. Kurasa.
Yang pasti aku akan memulai semester baru dengan semangat untuk tidak pernah salah. Aku tidak perfeksionis hanya saja aku tidak ingin salah. Aku yakin bisa menjalani semester ini dengan lancar karena aku sudah berhasil menyesuaikan diri dengan Carlos. Tapi ternyata kali ini Bu Regina menepati janjinya saat kami baru naik kelas empat, kira-kira satu setengah tahun yang lalu. Beliau mengatur ulang posisi duduk kami, terlebih lagi kelas kami kedatangan siswi baru bernama Eclise.
Saat ini aku duduk dibangku kedua dari depan. Sebelah kiri ku adalah tembok kelas dan teman sebangkuku adalah si anak baru Eclise. Menyenangkan, baru kali ini aku duduk dengan perempuan. Rasanya bahagia dan masa depanku akan cerah. Tepat di depan kami ada Icha dan Alan. Yah, tidak apalah dekat Alan asal jangan sebangku saja. Hari-hari berjalan sempurna, aku dan Eclise kompak sebagai teman sebangku. Sedangkan Icha seperti tidak sulit mengatasi Alan. Alan cenderung penurut dengan Icha.
"Alan sih gampang, kalau dia nakal tinggal jitak kepalanya kayak gini" sambil memperagakan di depan kami dan Alan hanya diam walau sedikit menggerutu. Heran, kenapa dia diam saja? Padahal kalau sama aku biasanya dia membalas dengan lebih keras. Sadis gitulah. Tega. Apa Alan sekarang sudah tobat? Kenapa tidak dari dulu waktu masih sebangku denganku? Apa Alan suka Icha? Jadi merinding bulu kudukku.
"Oh, jadi sekarang Alan sudah jadi penurut nih!" godaku.
"Lucia cemburu ya… Cieee…" lontar Icha menimpali.
"Yah, siapa? Makan aja tuh Alan, aku malah seneng nih duduk sama teman yang berguna. Nggak berkelahi terus!"
Alan hanya melirikku sekilas dan kembali diam.
Rupanya kekompakkanku dengan Eclise mengganggu beberapa orang termasuk Bu Regina. Prestasiku jauh lebih baik, bahkan aku jadi lebih ekspresif. Aku lebih berenergi.
Entah karena angin apa Bu Regina mengubah posisi duduk kami. Pas dua minggu kebahagiaanku duduk bersama teman yang kompak berakhir. Bu Regina menukar tempat dudukku dengan Icha. Aku benar-benar terkejut hingga tidak sanggup mengungkapkannya. Tanpa banyak protes aku langsung menurutinya walau dalam hati aku bertanya-tanya, apa salahku sehingga aku harus pindah tempat duduk, dan bersama Alan, LAGI. Sempat ku lirik wajah Icha bersinar penuh cahaya kegembiraan. Dan sepertinya awan mendung menyelimuti aku dan Alan. Untuk masuk ke bangkuku aku harus melewati bangku Alan, yang mana Alan harus menyingkir lebih dulu.
"Awas!!!" satu kata dan aku sedang malas bicara akibat kekecewaanku pada Bu Regina. Alan menyingkir dan membiarkanku masuk duduk diapit oleh tembok dan dirinya di sebelah kanan. Aku enggan menyentuhnya.
Ketidak akuran kami tidaklah seekstrim dulu. Mungkin karena kami sudah sama-sama lebih dewasa. Namun, tetap ada perselisihan yang tidak penting menyangkut prinsip walau kali ini sudah tidak ada batas teritorial diatas meja.
Saat aku hendak keluar dari bangku aku harus melewati Alan dan menyuruhnya menyingkir bukanlah hal mudah, sehingga aku jarang keluar dari bangku. Aku benci Alan. Pernah suatu waktu aku hendak mengumpulkan tugasku dan Alan hanya bergeser sedikit untuk memberiku jalan sehingga kami bergesekkan hebat saling mempertahankan posisi masing-masing dan tidak ada yang mau mengalah hingga Bu Regina menatap kami dengan dua 'tanduk' diatas kepalanya dan akhirnya Alan mengalah namun ia berhasil menjegal kakiku tetapi aku berhasil menahan keseimbanganku agar tidak jatuh. Beberapa teman dibangku belakang tertawa melihatku. Sialan Alan! Kembali dari mengumpulkan buku aku harus melewati Alan lagi, dan inilah saat pembalasanku. Saat tubuh kami saling bertumbukkan, aku berjalan sambil menginjak kakinya dengan 'tidak sengaja'.
"Ups, maaf!" aku berusaha semenyesal mungkin.
"Bu, Lucia injak kaki saya"
"Saya nggak sengaja Bu, kaki Alan halangi jalan saya. Saya sudah minta maaf kok!"
"Kalian berdua lagi. Alan, mau saya pindahkan diluar? Lucia, mau duduk di kursi Ibu?"
"Tidak, Bu" jawab kami bersama.
Namun, tidak selamanya hari-hari kami seperti itu karena aku mulai berusaha untuk acuh dengan keusilan Alan.
Terkadang kami menjadi tim yang kompak. Alan sebenarnya memiliki otak yang cerdas walau sedikit malas. Aku sering memanfaatkannya. Aku mencoba turut serta dengan keasyikan mereka membicarakan game baru kesukaan mereka.
"Emang perempuan tahu apa!" tukas Rudy.
"Aku tahulah, kakakku suka main itu"
"Ah, nggak usah ikut-ikut!"
Sedangkan Alan hanya diam saja tidak mendukung Rudy ataupun aku. Okelah untuk sikap netralnya kali ini. Sudah kukatakan kami sudah lebih dewasa sekarang.
Dan hari-hari kujalani dengan cukup lancar. Alan bukan lagi masalah. Walau dia tak sepenurut ketika dengan Icha, namun ia tidak lagi keterlaluan seperti kelas empat dulu. Dan prestasiku cukup baik, aku rangking 2 saat kenaikkan kelas. Dan baru kali ini aku ingin tahu rangking berapa yang diraih Alan, tapi dia tak ingin mengatakannya, ya sudahlah.

Apakah teman sekelas kalian ada yang seperti Lucia?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar