Jumat, 18 Maret 2016

Special Heart

File 1: 'Perjodohan' ala Bu Regina

"Sekarang kalian sudah kelas empat, saatnya untuk belajar dan jangan main-main… Alan, kamu ngapain dibelakang situ? Gak perhatikan Ibu lagi bicara ya?"
"Maaf, Bu" sekejap bocah bernama Alan menghentikan kesibukkannya bersama Rudy.
"Ini kenapa yang laki-laki pada duduk dibelakang? Itu Carlos kenapa tidak dapat teman? Carlos, lap ingus kamu!"
"Pakai kertas, Bu?"
"Haduh, sapa punya tisu?"
"Carissa….." sontak murid sekelas menyerukan nama Carissa dan saat itu juga Carissa melotot seolah marah tapi ingin menangis juga.
"Ini, Bu" gerakannya pelan seolah dia ingin menunjukkan ketidak ikhlasannya.
"Carlos minta satu ya… Kalau bantu teman yang ikhlas, nanti dapat pahala" Bu Regina berusaha menghibur Carissa.
Dan Carissa hanya mengangguk pasrah, setelah itu dia melototin Carlos. Makanya kalo sudah tahu ingusan bawa tisu donk, kira-kira begitu batin Carissa. Dan beberapa anak laki-laki cekikikan mensyukuri kesialan yang menimpa Carissa.
"Makasih Carissa…!" saking bersemangatnya ingus Carlos menggelembung menjadi balon. Sontak Carissa, anak sekelas termasuk Bu Regina meringis ngeri.
"Hiiii!!!"
Entah salah apa, Carissa jarang punya teman di kelas, mungkin karena dia terlalu manja sehingga mereka semua berpikir ulang untuk berteman dengan Carissa, karena kalau salah sedikit saja mereka bisa dipanggil kepala sekolah. Yah, Ibunya Carissa teman arisan Bu Sophia, si kepala sekolah yang agung.
"Sudah-sudah, sekarang Ibu yang akan mengatur tempat duduk kalian. Posisi duduk ini berlaku hingga semester depan, mengerti!"
"Me…nger…ti…!" kalau jawabnya serentak pasti begitulah bunyinya. Ada nadanya.
"Alan, kamu maju paling depan, dekat meja Ibu. Biar Ibu gampang awasi kamu. Kamu tau, nilai kamu makin turun saja di kelas tiga. Jangan harap Ibu akan seramah Ibu Minah, ya!"
Alan memikul tas punggungnya dan berjalan lesu ke depan. Haha, rasakan!
"Selanjutnya, Carissa di bangku nomer tiga sama Carlos" Entah mengapa Bu Regina 'menjodohkan' Carissa dengan Carlos, apa karena mereka Carissa selalu membawa tisu dan Carlos selalu ingusan? Pasangan serasi.
"Nggak mau! Nggak mau! Bu… Nggak mau…huhuhu" makin lama kata-kata itu terdengar menjadi raungan tangis yang menjadi-jadi. Dan murid sekelas yang awalnya tertawa pecah menjadi hening. Prihatin dengan Carissa.
"Carissa kenapa?" tanya Ibu Regina dengan penuh penghasutan eh perhatian.
"Nanti barang-barang saya kotor kena ingusnya"
"Eh, kalian nggak boleh begitu. Carlos anaknya baik kok, cuma lagi pilek aja, ya kan Carlos"
"Kata mama ini alergi" jawab Carlos polos.
"Tuh kan, Bu. Kalau alergi kan nggak bisa sembuh" Carissa melanjutkan raungannya.
"Eh, sudah-sudah. Kalau begitu Carissa duduk di bangku nomer dua dengan Galih, ya"
Carissa mengangguk sambil menyeka air matanya.
"Bu, saya kalau ingusan meluber sampai kaos kaki lho!" teriak Galih.
"Bu Guru……!!!!" tangis Carissa kembali
pecah. Dan seisi kelas tertawa.
"Galih, jangan godain Carissa. Carissa jangan nangis lagi, Ibu pusing!" akhirnya Galih dan Carissa berhasil dalam 'perjodohan' ini.
"Selanjutnya, Rudy kamu duduk sama Mae di paling depan sini deret kedua"
"Asyik, deket Alan!" pekik Rudy spontan
"Iya, biar ibu bisa awasi kalian berdua si biang ribut"
"Haha, sama Mae!" ejek Alan pelan membuat Rudy kesal.
"Bu, Alan kok sendirian?" ujar Rudy sembari menunjuk Alan.
"Sebentar" Bu Regina seolah berpikir keras untuk mencari 'jodoh' yang tepat untuk Alan. "Nah, Ananda…" mendengar nama Ananda disebut beberapa siswi yang belum dipindah menghela nafas lega "…Ananda, kamu duduk dengan Luis. Jadi Lucia, kamu pindah dengan Alan!"
Apa? Aku?!
Setelah sekian menit berdoa dalam hati agar tidak sebangku dengan anak paling dijauhi. Merasa lega sudah 'dijodohkan' dengan Luis. Akhirnya harus pindah bersama Alan. Kepalaku seperti kejatuhan kamus besar Bahasa Indonesia dari lantai tiga. Aku langsung berupaya menggunakan siasat Carissa.
"Bu Guru Regina… Saya nggak mau duduk sama dia, Bu. Sama Luis saja… Huhuhu"
"Loh, kenapa Lucia?"
Hah? Kenapa? Aku langsung bingung karena tidak menyiapkan alasan.
"Karena Alan nakal, Bu… Huhuhu"
"Argh… Nggak ada alasan begitu. Justru Alan duduk sama Lucia supaya Alan tidak nakal lagi. Alan pasti malu kalau mau nakal, kan ada Lucia"
"Tapi…tapi…" akting nangis sesenggukanku pun gagal.
Akhirnya aku pun menenteng tas dan buku-buku ku lalu pindah ke depan. Dengan mata sedikit sembab aku melemparkan tatapan permusuhan dengan Alan. Aku duduk sangat menepi dan nyaris jatuh. Sebenarnya aku pun tidak mengerti apa salah Alan. Kenapa teman-teman perempuan satu kelas tidak suka dengan Alan. Apa Alan tipe lelaki cabul? Atau penindas? Aku makin ngeri membayangkan yang tidak-tidak.
Oh, ya aku pindah ke sekolah ini saat kelas tiga. Dan waktu itu teman-temanku berbeda dengan yang sekarang. Saat kenaikkan kelas empat, beberapa teman kami pindah ke kelas sebelah dan sebaliknya murid kelas sebelah pindah ke kelas kami, termasuk Alan. Ternyata Alan terkenal anak yang bandel dan sulit mengalah bahkan dengan perempuan sehingga dia bukanlah favorit para siswi di kelas. Dan aku percaya pada opini yang beredar.
"Ini batas tempat duduk kita. Kamu dan barang-barangmu nggak boleh lewati batas ini. Titik!" aku langsung membuat batas ditengah meja menggunakan tipe-x dengan penuh percaya diri.
Alan tidak mengindahkan peringatanku bahkan dia sengaja meletakkan bukunya tepat diatas garis yang artinya melewati teritorialnya. Aku langsung menyingkirkan bukunya hingga jatuh ke lantai.
"Bu, Lucia coret-coret meja pakai tipe-x" tiba-tiba terdengar suara nyaring Alan membahana di langit-langit kelas.
Aku tertohok dan tak sanggup bicara. Air mataku mulai tertampung. Duh, kenapa nih anak tega lapor ke guru? Akhirnya aku sadar betapa menyebalkannya anak ini.
"Rasakan!" bisik Alan.
Akhirnya aku dimarahi Bu Regina dan beliau menyuruhku tidak mengulangnya lagi dan belajar berteman dengan Alan. Namun, aku sukses menahan air mataku agar tidak jatuh.
"Ciyee, Lucia sama Alan pacaran" bisikan setan itu terdengar lirih tepat dari bangku belakang. Andy si usil.
"Nggak, nggak. Kamu itu yang pacaran sama Sheila" aku nyaris berteriak.
"Lucia! Kenapa lagi? Sudah diam, pelajaran mau mulai"
Wajahku merah padam karena malu bercampur marah sebelumnya aku tidak pernah ditegur didepan murid-murid. Aku merasa semua mata tertuju padaku. Dan aku menyalahkan Alan penyebab semua ini. Sepertinya aku dapat membayangkan bagaimana nasibku satu semester ke depan. Paling tidak setelah itu aku tidak akan duduk dengan Alan lagi. Carlos masih lebih baik. Sekilas aku menengok ke arah Carlos dimana ia tidak sadar ingusnya hampir jatuh saat ia sedang menulis. Aku meringis geli. Haduh!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar